Tidak semua luka anak butuh nasihat
Sebagian luka hanya butuh didengarkan.
Banyak orang tua merasa tugasnya adalah selalu punya jawaban.
Ketika anak datang dengan masalah, kita buru-buru memberi solusi.
Ketika anak bercerita, kita cepat menyela dengan nasihat.
Padahal sering kali, yang anak cari bukan jawaban.
Mereka hanya ingin tahu satu hal sederhana:
“Apakah orang tuaku benar-benar mau mendengarkan aku?”
Karena terkadang,telinga yang sabar mendengarkan lebih banyak mengobati luka dibandingkan kalimat motivasi yang terburu-buru.
Suatu hari seorang anak pulang dari sekolah dengan wajah murung.
Langkahnya lebih lambat dari biasanya.
Tasnya dijatuhkan begitu saja di sofa.
Ibunya yang melihat segera bertanya,“Kenapa?”
Anak itu mulai bercerita dengan pelan,tentang temannya yang mengejeknya di sekolah.
Namun belum selesai ceritanya, ibunya sudah menyela.
“Makanya kamu harus lebih percaya diri.”
“Jangan terlalu baper.”
“Nanti kalau diejek lagi, kamu balas saja.”
Ibunya sebenarnya berniat baik.
Ia ingin anaknya kuat.Ia ingin anaknya tidak terluka.
Tetapi sejak saat itu, anak tersebut mulai belajar satu hal: tidak semua cerita perlu ia bawa pulang ke rumah.
Karena rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk bercerita… kadang terasa seperti ruang sidang yang penuh nasihat.
Akhirnya anak itu mulai menyimpan ceritanya sendiri.
Tentang teman yang membuatnya sedih.
Tentang guru yang membuatnya tertekan.
Tentang hari-hari yang tidak mudah ia lalui.
Bukan karena ia tidak butuh orang tuanya.
Tapi karena ia merasa ceritanya tidak benar-benar didengar.---
Banyak orang tua mengira bahwa mendidik anak berarti selalu mengoreksi.
Ketika anak mengeluh, kita memberi nasihat. Ketika anak bercerita, kita memberi solusi, Ketika anak salah, kita memberi ceramah.
Padahal sebelum semua itu, ada satu kebutuhan anak yang sering terlewat: merasa dipahami.
Anak yang didengarkan akan merasa dihargai.
Anak yang dihargai akan merasa aman.
Dan anak yang merasa aman akan lebih terbuka kepada orang tuanya.
Mendengarkan bukan berarti kita setuju dengan semua yang anak katakan.
Bukan berarti kita membiarkan semua kesalahan.
Tetapi mendengarkan adalah cara kita berkata kepada anak:
“Perasaanmu penting bagi Abi dan Bunda.”
“Ceritamu layak untuk didengar.”
“Kamu tidak sendirian.”
Kadang anak tidak butuh solusi yang rumit.
Mereka hanya butuh seseorang yang mau duduk di samping mereka… dan berkata, “Ayo cerita, Ayah dengar.”
Dan sering kali setelah didengarkan, anak justru menemukan jawabannya sendiri.
Karena hati yang tenang lebih mudah menemukan jalan keluar.---
Ketika anak datang dengan cerita, cobalah menahan diri sejenak.
Tidak perlu langsung memberi nasihat.
Mulailah dengan mendengarkan sepenuhnya.
Tatap matanya.
Letakkan ponsel.Berikan perhatian yang utuh.
Biarkan anak menyelesaikan ceritanya sampai akhir.
Kadang yang mereka butuhkan hanya kalimat sederhana seperti:
“Pasti tadi rasanya tidak enak ya.”
“Abi bisa mengerti kenapa kamu sedih.”
“Terima kasih sudah cerita.”
Kalimat-kalimat seperti ini sederhana,tetapi bagi anak, rasanya seperti menemukan tempat berteduh.
Setelah anak merasa didengar, barulah kita perlahan mengajak mereka berpikir,
“Menurut kamu, kalau kejadian seperti itu lagi, apa yang bisa kita lakukan?”
“Kalau Abi di posisi kamu, mungkin Abi juga akan merasa sedih.”
Dengan cara seperti ini, anak tidak merasa dihakimi.
Ia merasa ditemani.
Dan hubungan antara orang tua dan anak pun menjadi lebih hangat.
Karena rumah bukan hanya tempat untuk memberi aturan.
Rumah adalah tempat di mana hati anak dipeluk terlebih dahulu,sebelum pikirannya diarahkan.
Suatu hari nanti anak kita akan tumbuh besar.
Masalah yang ia hadapi tidak lagi sesederhana ejekan teman di sekolah.
Akan ada kekecewaan, kegagalan, bahkan patah hati.
Pada saat itu, kita tidak selalu bisa melindungi mereka dari dunia.
Tetapi kita masih bisa menjadi satu hal yang sangat berharga:
tempat mereka kembali untuk didengar.
Karena pada akhirnya, anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang paling pintar memberi nasihat.
Anak hanya membutuhkan orang tua yang hatinya cukup lapang untuk mendengarkan cerita mereka.
Sebab sering kali,
telinga yang sabar mendengarkan lebih banyak menyembuhkan luka dibandingkan seribu kalimat motivasi yang terburu-buru.
~kang febri~
telinga yang mau mendengar
Tidak semua luka anak butuh nasihat. Sebagian luka hanya butuh didengarkan. Banyak orang tua merasa tugasnya adalah selalu punya jawaban. Ketika anak datang dengan masalah, kita buru-buru memberi solusi. Ketika anak bercerita, kita cepat menyela dengan nasihat.

#parenting#mendidik anak#ayah hebat#komunikasi keluarga