Jangan sampai anakmu lebih takut cerita kepada orang tuanya, daripada takut pada masalah yang sedang ia hadapi.

Karena ketika rumah terasa tidak aman untuk bercerita, anak akan mencari tempat aman di luar rumah. Anak melakukan kesalahan. Lalu ia berpikir: “Kalau aku cerita, nanti dimarahin.” Ia punya masalah. “Nanti Ayah kecewa.” Ia melakukan sesuatu yang ia sesali. “Lebih baik aku sembunyikan.”

Jangan sampai anakmu lebih takut cerita kepada orang tuanya, daripada takut pada masalah yang sedang ia hadapi.
Jangan sampai anakmu lebih takut cerita kepada orang tuanya, daripada takut pada masalah yang sedang ia hadapi.
Karena ketika rumah terasa tidak aman untuk bercerita,anak akan mencari tempat aman di luar rumah.
Anak melakukan kesalahan.Lalu ia berpikir:“Kalau aku cerita, nanti dimarahin.”Ia punya masalah.“Nanti Ayah kecewa.”Ia melakukan sesuatu yang ia sesali.“Lebih baik aku sembunyikan.”Dan akhirnya...ia memilih diam.
Awalnya mungkin kita merasa lega.“Anakku nggak pernah macam-macam.”“Dia selalu nurut.”“Dia nggak pernah cerita masalah.”
*Tapi hati-hati!!*anak yang tidak berceritabelum tentu tidak punya masalah.Bisa jadi...ia hanya tidak merasa aman untuk menceritakannya.

Kita ingin anak berkata jujur.Tetapi ketika ia jujur...kita langsung menghakimi.Kita ingin anak terbuka.Tetapi ketika ia bercerita...kita buru-buru memotong.Kita ingin anak percaya.Tetapi ketika ia melakukan kesalahan...kita membuatnya takut pada kejujuran itu sendiri.
----Ternyata...menjadi orang tua yang diseganitidak harus membuat anak takut.Karena ada perbedaan besar antara:“Anak takut kepada orang tua.”dan“Anak menghormati orang tua.”
Yang pertama membuat anak menyembunyikan kesalahan.Yang kedua membuat anak berani datang ketika sedang salah.

Bayangkan suatu hari...anakmu mengalami masalah besar.Dibully.Salah memilih teman.Mendapat tekanan.Gagal.Melakukan kesalahan.Atau bahkan...terjebak dalam sesuatu yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara keluarnya.
Lalu pertanyaan terbesarnya bukan:“Apa yang harus aku lakukan?”Tetapi...“Kalau aku cerita kepada Ayah dan Bunda, mereka akan marah nggak?”

Di situlah kualitas hubungan diuji.Bukan ketika anak sedang baik-baik saja.Tetapi ketika...ia sedang melakukan kesalahan,lalu tetap merasa aman untuk pulang.
Rumah seharusnya bukan tempatdi mana anak takut membawa masalah.
Rumah adalah tempat pertamadi mana ia belajar menghadapi masalah.

Bukan berarti orang tua harus membenarkan semua perilaku anak.Tidak.
Anak tetap perlu batas.Tetap perlu konsekuensi.Tetap perlu diajarkan mana yang benar dan salah.
Tetapi...koreksi tidak harus disertai intimidasi.Kita bisa tegas...tanpa membuat anak kehilangan rasa aman.

Ketika anak datang membawa kesalahan,mungkin kalimat pertama kita bukan:“Kok kamu bisa begitu?!”Tetapi:“Terima kasih sudah mau cerita kepada Ayah.”Setelah itu...baru kita bicara tentang kesalahannya.Karena sebelum memperbaiki perilakunya,pastikan dulu ia tidak kehilangan keberanian untuk jujur.

Ketika anak bercerita...jangan selalu buru-buru memberi nasihat.Kadang ia hanya ingin didengar.Jangan langsung berkata:“Makanya...”“Kan sudah Bunda bilang.”“Itu salah kamu sendiri.”Coba sesekali berkata:“Ayah dengarkan dulu.”Karena...didengarkan bukan berarti dibenarkan.Didengarkan berarti...“Perasaan dan ceritamu penting bagi Ayah.”

Coba tanyakan kepada diri sendiri:Kalau anakku suatu hari...melakukan kesalahan besar,mengalami kegagalan,jatuh cinta,mendapat masalah dengan teman,atau melakukan sesuatu yang memalukan...apakah aku orang pertama yang ingin ia cari?
Atau...justru orang pertama yang ingin ia hindari?Pertanyaan ini mungkin menyakitkan.Tapi penting untuk direnungkan.

Rasulullah ﷺ tidak hanya menjadi sosok yang ditaati.Beliau juga menjadi sosok yang didatangi.Orang datang membawa pertanyaan.Membawa kegelisahan.Membawa kesalahan.Membawa masalah.Dan mereka menemukan ruang untuk didengar dan dibimbing.Maka mendidik anak bukan hanya tentang membuat mereka takut berbuat salah.Tetapi juga membuat mereka tahu...ke mana harus pulang ketika mereka salah.

Suatu hari...anak kita akan menghadapi duniatanpa selalu bisa kita dampingi.Kita tidak bisa mengawasi setiap langkahnya.Tidak bisa memilihkan semua temannya.Tidak bisa mencegah semua masalahnya.Tetapi kita bisa membangun satu hal:Rasa aman untuk pulang.Agar ketika dunia membuatnya bingung...
ia tahu:“Aku bisa cerita kepada Ayah.”“Aku bisa cerita kepada Bunda.”
Dan semoga...rumah tetap menjadi tempat pertama yang ia cari ketika hidup terasa terlalu berat.
salam hangat @kangfebrimotivator
#parenting#mendidik anak#ayah bunda
Kang Febri

Kang Febri

Motivator Parenting dan Keluarga

Kenali lebih dekat

Bacaan lain

Artikel terkait

Setiap ruang belajar adalah kesempatan untuk bertumbuh.

Sedang merencanakan seminar, training, atau kegiatan edukasi? Mari hadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta Anda.